
By
Published: 2010-08-12T02:41:00+07:00
Melihat Tuhan
panduan tauhid kita
Sudah terbit buku untuk memudahkan Ikhwan/Akhwat memahami kajian tauhid hakiki yang termuat di situs ini secara lebih tersusun dari anak tangga pemahaman Islam yang paling dasar. Ikhwan yang berminat memiliki buku ini dapat menghubungi penerbitnya langsung di www.midaslearning.co.id
Pusaka Madinah adalah sebutan untuk ilmu, amal, dan muanayah tauhid hakiki yang menjelaskan sinergi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dari kalangan khawwasul khawwas yang disampaikan oleh Mursyid, K.H. Undang bin K.H. Sirad bin K.H. Yahya dengan sanad aly sebagai berikut: (1) Nabi Muhammad Rasulullah Saw., (2) Nabi Khidir a.s., (3) Abdul Aziz ad-Dabarq, (4) Abdul Wahab at-Tazi, (5) Ahmad bin Idris, (6) Muhammad Sanusi, (7) Muhammad Mahdi, dan (8) Muhammad Idris.
I ni semacam pemerkenalan singkat tentang mengapa pengajian tauhid hakiki yang disampaikan Alm. K.H. Undang Sirad di Majlis Talim Al-Wahidi...
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuuh,
Ya, dengan penuh yakin saya katakan kalimat judul tulisan ini (paling tidak ilmal yakin deh :p ). Banyak orang tanpa sadar-tanpa sengaja beranggapan bahwa Allah itu gaib semata (segaib jin, malaikat, surga, neraka ??? ). Tidak, Allah juga zahir. Tentu gaib dan zahirnya Allah tidak sama dengan yang selain Allah.
Al-Hadid (57) : 3
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang awal dan Yang Akhir Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Hmm..baiklah, bagaimana mungkin seorang bodoh seperti saya ini bisa melihat Allah, detik ini juga?
Melihat Allah tentu tidak mungkin dengan alat mata kasar kita yang serba terbatas ini. Melihat matahari yang telanjang saja kita takmampu, bagaimana mungkin kita mampu melihat langsung Penciptanya?! Juga bukan dengan mata batin.. itu nanti masuknya ke kebatinan seperti kejawen..paling jauh hanya masuk ke alam jin {yang gampang dihias-hias biar orang merasa seperti di dimensi ketuhanan [padahal kesetanan]}.
Dalam Ilmu Tauhid dijelaskan bahwa melihat Allah itu dengan 2 hal, yaitu iman dan yakin.
-----> dengan iman, kita yakini Allah itu ADA
Bahkan penganut Materialisme pun kini taksanggup lagi menafikan eksistensi Tuhan. Adapun kaum Atheis kontemporer, mereka bukan tidak percaya Tuhan itu ada, mereka mengakui dan meyakini Tuhan itu ada. Mereka sekadar terbodohi oleh ego intelektual mereka sendiri untuk memeluk agama.
----> dengan yakin, kita tetapkan bahwa Allah itu "Laysaka mitslihi syai'un"; tidak sama dengan sesuatu
: artinya Allah bukanlah sesuatu, melainkan Pencipta segala sesuatu. Setiap yang bisa dipikir-pikir; dirasa-rasa; dikira-kira; dibayang-bayangkan, pasti sesuatu, dan pasti bukan Allah.
Contoh sederhananya: Kita bisa melihat langit biru luas membentang secara nyata. Kita juga bisa melihat pelangi dan cahaya-cahaya Nah, Allah itu lebih nyata lagi daripada itu, "bentuk" Allah itu pasti tidak sama dengan bentuk langit, pelangi, maupun cahaya-cahaya.
Tetapi Allah itu dekat. Dengan demikian, sangat logis jika Allah itu Maha Mengetahui.
Al-Baqarah (2) : 115
وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah
Al-Baqarah (2) : 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aplikasi sederhananya: Silakan hadapkan bawah telapak tangan Sobat ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Sobat 'kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Sobat. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?
Qaf (50) : 16
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
.. dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
=====> bukankah urat leher kita itu ada di balik kulit kita?? <=====
Hal ini sesuai dengan sebuah hadis yang kalau tidak salah redaksinya seperti ini: "Barang siapa mengenal Allah dengan sebenar-benarnya pengenalan maka kelu lidahnya (kalla lisanuhu; karena memang tiada kata, tiada kemampuan makhluk mendefinisikan Diri Pribadi Tuhan).
Dengan pemahaman tauhid, insyaAllah kita tidak akan terpedaya oleh kelihaian Iblis, Dajjal, dan para setan laknatullah yang kerap membodohi orang-orang saleh yang buta tauhid.
Akhirul kalam, mari kita berantas buta tauhid agar ibadah kita terhindar dari syirik khafi (halus). Agar setiap muslim berkembang menjadi satu kekuatan yang tidak cinta dunia dan dan tidak takut mati. Agar setiap muslim tidak mudah terpesona oleh -isme-isme dari Dajjal. Agar setiap insan menyadari bahwa tujuan akhir setiap diri adalah Allah semata. Allahu'alam.